Posted by: samuel4121994 | July 30, 2009

Prestasi Tim Robotik Trimulia di INAICTA 2009

Puji Syukur kepada Tuhan Yesus Kristus ! Perhelatan akbar Indonesia ICT Award 2009 berakhir sudah. Dalam pagelaran teknologi 28-29 Juli 2009 yang diselenggarakan Departemen Komunikasi dan Informasi, dan mengambil tempat di Jakarta Convention Center ini, tim robotik TRIMULIA berhasil meraih juara pertama dan kedua untuk kelompok SMA, dan juara kedua dan ketiga untuk kelompok SMP.

Tim robotik SMA berhasil meraih best of the best, dengan mencetak skor terbaik (mutlak).


Saya ikut serta dalam TIM dan saya berhasil meraih juara ke 2 tingkat SMA. Suatu refleksi dalam lomba kali ini, kita memang harus berpikir kita ini adalah yang terbaik kalau kita ingin menjadi yang terbaik, dengan doa dan kerja keras maka akan menjadi kenyataan. Biarlah segala pujian dihaturkan kepada Tuhan !

Posted by: samuel4121994 | July 10, 2009

Mikrokontroler Semakin Netral

Saat ini, banyak individu dan perusahaan yang mencoba mengemas mikrokontroler sedemikian, sehingga, diharapkan, bisa tampil lebih ramah. Dengan demikian, anak-anak pun dapat mempelajarinya dengan mudah, begitu pun para wanita. Jadi, tidak dibatasi oleh usia maupun gender.

Saya melihat, posisi sistem berbasis mikrokontroler akan seperti komputer desktop. Artinya, secara perlahan namun pasti, dapat diterima oleh pihak-pihak yang tidak memiliki latar belakang pendidikan teknik.

sumber : christiantotjahyadi.wordpress.com

Keramahan itu bisa terlihat dari perangkat-perangkat yang bersifat modular, yang menyembunyikan berbagai kerumitan; serta pemrograman yang menggunakan high level language dan very high level language. Pengguna tinggal merangkai modul-modul tersebut, dan fokus pada bagian pemrograman. Sederhana, bukan?

Yuk, kita sama-sama menyaksikan perubahan life style yang menakjubkan!

Posted by: samuel4121994 | July 10, 2009

Catatan dalam Kompetisi Robotik

Dalam beberapa gelaran kompetisi robotik tingkat SD/SMP/SMA di tanah air, intervensi pelatih saat pertandingan berlangsung, adalah hal yang biasa. Terutama untuk penyelenggaraan yang tidak di-organisir dengan baik atau tidak menggunakan aturan yang ketat, sehingga memberikan celah bagi terjadinya asistensi saat pertandingan berlangsung.

Saat melihat pelatih melakukan intervensi karena “kasihan” anaknya kesulitan, saya selalu bertanya, apa target dari partisipasi mereka? Apakah sekedar mengejar kemenangan atau melatih anak agar memiliki karakter yang mandiri dan tangguh?

Sangat menyedihkan bila yang terjadi adalah seperti itu. Cara-cara tidak elegan seperti ini akan terekam dalam kehidupan si anak, dan akan mendorong penghalalan berbagai cara untuk meraih kemenangan semata. Sebuah praktek perusakan mental yang seyogyanya harus dihindari oleh individu yang bernama pendidik.

Partisipasi dalam kompetisi bukan melulu untuk mengejar kemenangan. Namun untuk membuka jalinan pertemanan, melatih mental dan emosi, serta menguji pengalaman yang diperoleh selama masa berlatih. Secara perlahan namun pasti, langkah-langkah kebaikan ini akan membentuk citra yang solid, membentuk insan yang mandiri, tangguh dan ber-integritas.

Bila mereka berhasil meraih kemenangan, itu adalah hadiah atas kerja keras yang mereka lakukan. Kemenangan yang murni dan akan terpatri secara positif dalam kehidupan mereka.

Pepatah mengatakan, “Pelaut ulung tidak lahir dari laut yang tenang”. Biarlah gelora “laut” kompetisi akan menjadikan mereka mahir dalam menaklukkannya.

Sumber : christiantotjahyadi.wordpress.com

Posted by: samuel4121994 | July 1, 2009

Silver Medal di South East Asia Robotic Olympiad 2009

Saya sebagai siswa dari NEXT SYSTEM Robotics Learning Center, berumur 14 tahun, meraih Silver Medal dalam kompetisi Maze Solving kelompok umur 13-18 tahun di arena South East Asia Robotics Olympiad 2009, yang digelar di kota Solo, 25-28 Juni 2009.

Maze Solving merupakan salah satu kompetisi robotik yang menantang, mengingat peserta harus piawai dalam menentukan strategi solusi untuk memecahkan labirin yang dibentuk dari berbagai kombinasi garis. Bentuk lintasan yang rumit sering kali membuat peserta frustrasi, dan robot yang telah diprogramnya pun tidak bisa menemukan titik akhir.

Posted by: samuel4121994 | April 21, 2009

Tim Robotik Trimulia di LIKMI

Ini foto TIM ROBOTIK TRIMULIA saat berfoto di STMIK LIKMI :

ROBOTIK LIKMI

Posted by: samuel4121994 | April 18, 2009

“Kompetisi” Robot yang Memprihatinkan alias AMBURADUL !

Satu minggu ini saya sempat meluangkan waktu untuk melatih beberapa anak SMAK TRIMULIA yang akan bertanding dalam “kompetisi” robot yang diadakan oleh satu STMIK di Bandung. Kata kompetisi sengaja diberi tanda petik, karena pada kenyataannya, memang kurang tepat disebut kompetisi. Kegiatan tersebut hanyalah sebuah permainan yang menggunakan robot, yang lebih mengandalkan keberuntungan.

Panitia menyediakan dua unit perangkat robot Lego untuk men-support 17 tim, tanpa unit cadangan. Dan kenyataan yang terjadi merupakan sebuah mimpi buruk bagi peserta, mengingat satu unit diantaranya bermasalah. Sejak dari penyisihan hingga final, satu per satu berguguran, dan di final, tim terakhir pun harus menyerah. Dalam undian pemilihan robot, mereka mendapatkan unit yang bermasalah.

Menyedihkan dan memprihatinkan!

Bagaimana bisa, sebuah perguruan tinggi berani menyelenggarakan sebuah event yang mereka sebut kompetisi, dengan persiapan seperti itu? Peserta wajib bertanding secara head to head, namun dua robot yang disediakan panitia, kualitasnya berbeda. So? Hanya mengandalkan keberuntungan semata. Bila saat undian peserta mendapatkan robot yang baik, maka hasilnya akan baik. Demikian pula sebaliknya.

Pertanyaannya, bila yang terjadi demikian, apakah masih layak disebut sebagai sebuah kompetisi robot? Bagaimana pencitraan sekolah tersebut di mata masyarakat?

Saya pikir, bila penyelenggara tidak mampu menyelenggarakan kompetisi robot yang sebenarnya, dengan baik; sebaiknya menunda atau malah tidak menyelenggarakannya sama sekali. Bila tetap ingin menyelenggarakan namun SDM yang ada tidak qualified, undanglah mereka yang kompeten dalam bidang robotik. Dalam konteks pendidikan tidak boleh ada rasa gengsi. Kalau memang tidak mampu, undanglah yang lebih mampu sehingga kita bisa belajar dari mereka.

Kejadian di atas jelas mencoreng muka sendiri dan akan memberikan citra yang buruk bagi institusi yang bersangkutan!

Kepada anak-anak SMAK TRIMULIA yang tidak puas karena dikalahkan oleh penyelenggara, saya menyampaikan pesan, jangan kesal atau kecewa. Toh, kalian hanya mengikuti sebuah permainan robot yang lebih mengandalkan keberuntungan, bukan kompetisi robot yang sesungguhnya. Untuk sebuah permainan keberuntungan, peringkat 2, 3 dan 4 yang kalian raih, sudah sangat baik!

Posted by: samuel4121994 | April 15, 2009

Kekalahan Merupakan Kemenangan yang Tertunda

Siang tadi saya mengikuti ajang LIKMI Robot Competition. Saya tidak lolos ke semi-final yang berarti saya belum menang. Sebenarnya dengan sistem Head-to-Head dalam LIKMI Robot Competition, saya kurang setuju karena yang ditonjolkan adalah “Faktor Hoki”. Di sana saya belajar banyak, mendapatkan banyak pengalaman karena saya mendapatakan suatu statement yaitu, “Senior belum tentu mengalahkan Junior.” Mengapa saya mendapatkan statement tersebut? Karena yang berhasil memecahkan soal dalam LIKMI Robot Competition hanya 1 tim dan itu merupakan Junior dengan arti secara kasar : “Mereka dengan saya lebih berpengalaman saya.” Kalau kita ingin menang kita harus FOKUS karena FOKUS merupakan suatu kekuatan yang terbentuk dari potensi yang ada di dalam kita. Sebenarnya tadi saya kurang fokus karena memperhatikan tim-tim lain. Kita harus membuat kemenangan secara mutlak jika kita ingin menang. Menang dengan keberuntungan semata bukanlah suatu kebanggaan. Semoga tulisan saya ini dapat meng-inspirasi kita semua. SOLI DEO GLORIA !

Posted by: samuel4121994 | March 25, 2009

Refleksi : Janganlah Sungkan Untuk Berbuat Baik

Alkisah di kota kecil di Amerika Serikat tinggal seorang anak kecil yang miskin bernama Cathy Wilson. Suatu hari dia kelaparan karena sejak kemarin belum makan. Karena dia tidak mempunyai sepeser uang pun, terpaksa dia mengetuk pintu suatu rumah untuk meminta sedikit makanan. Dia mengetuk pintu tersebut dan yang membukakan adalah seorang anak kecil yang sebaya dengannya. Cathy Wilson ini berkata,”Bolehkah saya meminta segelas air putih ?” Anak kecil yang membukakan pintu tersebut melihat dari wajah Cathy bahwa dia sedang kelaparan. Anak kecil tersebut mengambilkan segelas tinggi susu dan memberikannya ke Cathy. Cathy meminumnya dan lega dari rasa laparnya dan tak lupa ia pun berkata terima kasih. Sepuluh tahun berlalu anak kecil yang membukakan pintu tersebut sakit keras. Setelah diperiksa, ia tidak bisa sembuh karena penyakitnya aneh. Jadi dia harus pergi ke New York ke rumah sakit yang peralatannya sangat canggih. Setelah diobati di New York akhirnya di sembuh, tetapi karena dia telah menginap lama, obat-obatann yang mahal, sehingga dia tahu bahwa biaya rumah sakit pasti mahal tapi dia tidak punya uang untuk membayar semahal itu. Suster datang kepadanya dan memberikan surat. Dengan tangan gemetar dia membuka surat itu. Setelah dibaca dia kaget, karena disitu tertulis “LUNAS DIBAYAR OLEH SEGELAS SUSU.”, “Tertanda, dr. Cathy Wilson.”

Pesan moral yang kita dapat dari cerita tersebut adalah : “Janganlah sungkan untuk berbuat baik.”

Posted by: samuel4121994 | March 21, 2009

Pemilu 2009 : Menuju Pemilu Sukses

Mengawali perjalanan awal tahun 2009, nampaknya wacana dan perbincangan seputar Pemilu 2009 cukup mendapat perhatian luas dari publik. Beragam prediksi dan proyeksi tentang Pemilu mengemuka dari para pengamat. Tulisan Kiki Syahnakri di sebuah surat kabar nasional (06/01/2009) nampaknya cukup menarik untuk dieksplorasi lebih mendalam.

Paling tidak ada dua point penting dalam uraian pandangan Kiki Syahnakri, pertama kemungkinan munculnya potensi konflik yang dipicu karena beragam persoalan seputar pemilu kedua, ini yang penting, mengingatkan kembali semua elemen masyarakat-terutama aparat Polri-agar tetap waspada dan melakukan konsolidasi dalam pengamanan Pemilu 2009 nanti.

Dalam menghadapi dan mempersiapkan Pemilu 2009 nanti, ada baiknya jika sejenak kita menoleh ke belakang, melihat pengalaman Pemilu 2004 lalu. Secara de facto, Pemilu 2004 dalam konteks keamanan terbilang pemilu paling sukses, aman dan lancar. Pandangan ini nampaknya di-amini juga oleh banyak kalangan bahkan presiden dan presiden terpilih saat itu.

Padahal, menjelang pemilu 2004, publik diramaikan dengan opini bahwa pemilu akan berlangsung rusuh dan berdarah-darah. Tentu saja keberhasilan Pemilu 2004 adalah keberhasilan semua elemen bangsa; panitia penyelenggara pemilu (KPU), panwas, ornop pengawas pemilu dan aparat Polri/TNI. Dalam kaitannya dengan aspek keamanan dan pengamanan Pemilu, keberhasilan pemilu 2004 tentu saja tidak lepas dari peran dan kinerja Polri.

Menurut hasil evaluasi yang dilakukan oleh lembaga Kemitraan (Partnership) tahun 2004 terhadap peran Polri dalam pemilu 2004, dikatakan bahwa faktor pendukung keberhasilan Polri dalam mengamankan pemilu 2004 diantaranya; persiapan matang yang dilakukan Polri, kepercayaan diri Polri dan upaya Polri menjaga netralitasnya. Untuk soal netralitas, nampaknya sejalan dengan pandangan Kiki Syahnakri. Pun demikian, keberhasilan Polri tahun pemilu 2004 lalu nampaknya akan diuji kembali dalam pemilu 2009 nanti ?

Selain potensi konflik yang ditimbulkan dari lemahnya kultur dan etika demokrasi dan banyaknya kontestan pemilu 2009, beragam persoalan sosial-kemasyarakatan yang saat ini terjadi pun dinilai akan turut mempengaruhi tensi konflik yang terjadi. Dalam aspek Politik misalnya, carut marut persiapan pemilu oleh KPU yang dinilai masih lamban dan miskin sosialisasi, serta konflik internal partai nampaknya boleh jadi akan memicu konflik dan apatisme publik. Sedangkan dalam aspek ekonomi, dampak gejolak ekonomi global masih menjadi ancaman besar terutama dalam menekan daya beli dan menurunnya sisi permintaan/konsumsi. Belum lagi jumlah pengangguran yang diprediksi oleh para pengamat kian bertambah akan menjadi persoalan sosial akan mempengaruhi jalannya pemilu 2009.

Sederhananya, di tengah situasi politik, sosial dan ekonomi yang terjadi, mewujudkan pemilu 2009 yang damai dan aman menjadi tantangan tersendiri baik bagi pemerintah, aparat Polri/TNI, KPU dan Panwas dan tentu masyarakat sendiri. Inilah saatnya semua elemen bangsa diuji kembali kematangan dan kedewasaannya dalam berbangsa dan bernegara. Sekaligus pemilu 2009 juga menjadi indikator, apakah perjalanan reformasi-sebagai tonggak demokratisasi-selama 10 tahun ini hanya menghadapkan bangsa ini pada aspek prosedural demokrasi an-sich minus kultur dan etika demokrasi? Bahkan minus substansi demokrasi itu sendiri yaitu terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran Rakyat?

Terlepas dari proyeksi dan analisa kondisi pemilu 2009 yang masih dinilai “rawan” dan berpotensi munculnya konflik, namun pelaksanaan pemilu 2009 secara pasti akan berjalan dalam hitungan hari ke depan. Inilah saatnya bagi semua elemen dan stakeholders bangsa ini untuk merajut dan meneguhkan kembali komitmen dalam menciptakan pemilu 2009 yang damai, aman dan lancar.

Mengingat keberhasilan pemilu 2009 nanti sangat tergantung pada semua elemen bangsa, maka sejatinya semua elemen bangsa pun turut serta dalam pengamanan pemilu 2009. Aparat Keamanan dari Polri/TNI tentu saja hendaknya melakukan persiapan matang pemilu 2009 termasuk di dalamnya upaya memetakan, memprediksi dan mengantisipasi berbagai gangguan, hambatan dan ancaman bagi terwujudnya pemilu 2009 yang damai.

Bagi panitia penyelenggara, KPU sejatinya speed dan ritme kinerja menjadi prioritas dengan tetap berjalan dalam koridor peraturan yang telah ditetapkan. Dan bagi masyarakat, selain turut larut dalam pesta demokrasi tahun ini, partisipasi dalam menciptakan situasi yang kondusif sangat penting. Tanpa peran serta masyarakat dalam pengamanan pemilu, mustahil terwujud pemilu 2009 yang damai dan aman.

Akhirnya semua terpulang kepada kita semua. Apakah pemilu 2009 akan berlangsung damai? Atau sebaliknya?. Sebagai penutup, penulis masih optimis bahwa pemilu 2009 akan berlangsung damai dan aman. Optimisme itu selain merupakan ekspresi dari sikap positif penulis juga mengingat proses pembelajaran demokrasi yang telah dilewati oleh masyarakat dalam kurun 4 tahun terakhir ini nampaknya memberikan pengalaman berharga bagi masyarakat dalam berdemokrasi. Tuhan Memberkati.

Berikut kesaksian dari teman saya Klemens yang berkunjung ke rumah DaFW: Kasus
bunuh diri di NTU, dipertanyakan???vid Hartanto:

Hari ini (5/3-09) saya dan temen2 SD/SMP yang seangkatan sama David Hartanto
(Ming2) kita sama2 main kerumah keluarga Hartanto, sekedar untuk menyampaikan
bela sungkawa, serta mencari kebenaran yang sesungguhnya karena kami tahu kalau
David tidak akan melakukan hal-hal yang seperti diberitakan oleh media. Disana
kami disambut oleh kakak David, dan orangtuanya, kebetulan kami datang bersamaan
dengan keluarga besar Hartanto, jadi kami lebih banyak mengobrol dengan kakak
David, yaitu William Hartanto, atau dulu dikenal teman2 seangkatannya dengan
panggilan Weha.H

Semakin lama mendalami kasus ini, makin banyak keanehan yang terbuka, dan untuk
adanya pemberitaan yang mulai menunjukkan kebenaran, kami berterima kasih untuk
rekan David di NTU yaitu edwin, kami tahu dia mempertaruhkan gelar sarjananya
demi mengungkap kebenaran, karena itu kami juga mau membantu menyebarkan kabar
yang sesungguhnya.

Kejanggalan-kejanggalan yang ada:

1. Munculnya berita bahwa David menyerang Profesor Chan Kap Luk, lalu bunuh
diri, padahal tidak ada bekas sayatan di pergelangan tangan seperti yang
diberitakan, lalu darimana muncul berita tersebut? Untuk apa dimunculkan berita
palsu bahwa David menyayat pergelangan tangannya?

2. Saat keluarga tiba disana senin malam setelah kejadian, keluarga ingin
langsung melihat jenazah David, namun dihalangi oleh pihak2 tertentu, dengan
alasan sudah peraturan, tentu saja keluarga harus menurut, apalagi saat itu
keluarga masih syok. Lalu saat diizinkan melihat kondisi jenazah keesokan
harinya, keluarga hanya diizinkan untuk melihat jenazah bagian leher ke atas,
sedangkan bagian tubuh yang lain telah ditutupi plastik. Keluarga Hartanto juga
telah mengkonfirmasikan ke pihak polisi Singapura, tidak ada luka di bagian
pergelangan tangan. Saat itu keluarga Hartanto juga melihat di bagian leher
depan (daerah leher dibawah bahu) terdapat banyak plesteran luka.

Pertanyaannya. Untuk apa keluarga Hartanto menunggu 1 hari untuk melihat
jenazah keluarga kandung mereka sendiri? Mengapa jenazah harus ditutupi oleh
plastik? Apakah benar ada peraturan seperti itu? Atau hanya karangan pihak2
tertentu saja untuk menutupi kenyataan? Darimana asal luka di leher? Mengapa
jenazah David terlihat berdarah cukup parah di bagian bokong?

3. Saat keluarga tiba di TKP senin malam, karena tidak diizinkan untuk melihat
jenazah, keluarga datang ke NTU untuk melihat TKP, namun saat sampai, polisi
tidak menemukan satupun bekas darah ataupun police line. Hebat bukan? Hanya
dalam waktu sekitar 7 jam sejak waktu kejadian, TKP telah bersih total, adakah
alasan untuk buru2 membersihkan TKP?

4. Lalu keluarga datang melihat kamar David, dan apa yang ditemukan? Ternyata
semua peralatan komputer yang ada di kamar itu semua MENYALA. Apakah seorang
yang mau bunuh diri akan menyalakan semua peralatan komputernya? Bahkan menurut
kesaksian seorang teman, account MSN David masih menyala. Apakah hal ini
terlihat seperti David mau mengakhiri hidupnya? Bahkan dia masih bermain game
online sampai jam 2 pagi di hari kejadian bersama teman yang tadi menjenguk
keluarga David.

5. Pada ruangan profesor tertinggal tas David yang biasa dia bawa, dan tebak
apa yang dia bawa dalam tasnya? Sebuah handuk dan botol air mineral 1,5 L.
(Semua yang mengenal Ming2 pasti tahu, dikelas, sejak SD, Ming2 selalu membawa
handuk, bahkan kadang dikalungkan di leher saat berada di kelas, dia juga selalu
membawa air minum yang banyak karena mamanya selalu berpesan untuk banyak
mengkonsumsi air). Apakah seorang yang mau membunuh, lalu bunuh diri, akan
membawa barang seperti itu? Akan jauh lebih mudah untuk membawa sebilah pisau
yang besar (lebih besar dari pisau berukuran 10cm yang muncul di TKP, yang entah
milik siapa).

6. Keluarga dihalang-halangi saat hendak bertemu dengan Profesor Chan Kap Luk,
dengan alasan, saat itu dia sedang di ICU, dan kenyataannya? Hari rabu sang
Profesor telah keluar dari rumah sakit. Apakah ada catatan seorang yang
menderita luka tusukan parah yang harus masuk ICU, dapat keluar dari rumah sakit
dalam tidak sampai 2 hari? Benarkan sang Profesor terluka? Atau hanya membaca
koran sambil bersantai di ICU?

7. Saat keluarga ingin bertemu dengan “saksi mata” yang melihat David
melompat dari lantai 4, pihak NTU menghalangi dengan alasan hal itu harus
dirahasiakan. Oke, kalau begitu, darimana kita tahu kalau benar2 ada orang yang
melihat kalau David benar2 melompat, bukannya terjatuh ataupun dijatuhkan orang?

8. Data tentang David dan FYP (Final Year Project) nya telah dihapus dari
database NTU. Hanya dalam 2 hari, NTU langsung menghapus data topik FYP yang
sedang David kerjakan, adakah alasan khusus dibalik keterburu-buruan pihak NTU
untuk menghapus data tersebut? Tidakkah ada rasa ingin mengenang salah satu
mahasiswa berprestasinya, alih-alih langsung menghapus data, seakan David tidak
pernah kuliah disana?

9. Polisi Singapura menahan Laptop milik David dan akan dikembalikan setelah
penyelidikan selesai. Untuk apa?

10. Pisau yang ada di TKP, dilaporkan berasal dari hall 4, itu hasil
investigasi? Atau hanya karangan? Seorang teman di NTU berkata bahwa biasanya
seorang dosen memiliki pisau kecil di ruangannya yang biasa digunakan untuk
memotong buah. Jadi? Itu pisau milik David Hartanto atau Chan Kap Luk?

11. Waktu kejadian adalah sekitar jam 10.45 waktu Singapura hari Senin, apakah
tidak terdengar aneh jika hanya sedikit sekali mahasiswa yang ada dan
menyaksikan kejadian? Adakah tekanan dari pihak NTU untuk tutup mulut?

12. Senjata yang ditemukan -pisau buah 10cm- ditemukan tanpa gagang, dimanakah
gagangnya? Mengapa tidak dilakukan analisa sidik jari? Jelas tidak mungkin
menusuk seseorang tanpa menggunakan gagang pisau, jadi entah siapapun yang
menusuk siapa, pasti ada gagangnya, namun pemberitaannya belum jelas.

Pemberitaan miring yang disebutkan media pun tidak berdasar, berikut
klarifikasinya:

1. David berniat membunuh Profesornya lalu bunuh diri meloncat. Di dalam
ruangan tersebut hanya ada David dan Profesor, David telah tiada, dan kesaksian
yang bisa didengarkan hanyalah dari Profesor, darimana kita tahu kalau kesaksian
tersebut benar? Tanpa bukti2 yang cukup, kesaksian Profesor tersebut tidak bisa
dijadikan alasan untuk menyalahkan David.

2. David dikatakan stress karena beasiswanya dicabut, bahkan dia salah sasaran,
yaitu mengamuk ke dosen pembimbingnya. Tidakkah hal itu terdengan sangat aneh?
David sangat tahu dengan jelas bahwa beasiswanya diberhentikan karena
prestasinya menurun, bukan salah Profesor itu. Pihak keluarga telah diberitahu
sejak hari pertama diberitahukan bahwa beasiswanya diberhentikan, dan pihak
keluarga menerima, dan mampu untuk membayarnya, David juga bersikap biasa2 saja
tentang pemberhentian beasiswanya. Bagi yang mengenal dia, tentu tahu bahwa dia
orang yang sangat cuek, hal ini juga dapat dilihat dari post edwin.

3. Dikatakan pula, bahwa David depresi karena tidak mampu menyelesaikan FYPnya.
Seorang rekan David disana menyatakan bahwa FYP David hampir selesai. Dia tidak
pulang ke Indonesia pada akhir semester lalu, karena ingin berkonsentrasi
menyelesaikan FYPnya. Bagi yang mengenal David, apalagi kami teman sekolahnya,
tentu tahu, David sejak dulu memang ketagihan game, tapi 1 hal, dia selalu
mengerjakan tugas dan PRnya dengan baik, tanpa bantuan orang lain apalagi
menyalin hasil pekerjaan orang lain. Jadi, jika dikatakan dia menyerang dosen
pembimbingnya karena FYPnya tidak selesai, hal itu benar2 tidak masuk diakal.

4. David diberitakan pula menghilang dari pergaulan selama kurang lebih 1
minggu sebelum kejadian, namun keluarga David tahu yang sebenarnya, David sedang
berkonsentrasi untuk menyelesaikan FYPnya, jadi pernyataan bahwa David
menghilang dari pergaulan karena sedang depresi dan ingin membunuh itu sangat
tidak valid, karena saat itu dia banyak chatting dengan kakaknya, bahkan bermain
game online bersama temannya di Indonesia. Terlihat seperti orang depresi yang
mau membunuh dosennya? Tidak sama sekali!

Saat ini fakta-fakta yang muncul setelah menyingkirkan pemberitaan media
adalah:
1. David meninggal jatuh dari lantai 4, tanpa luka sayatan di pergelangan
tangan, dan dengan luka di bagian leher, serta bagian bokong berlumuran darah.
2. Sang Profesor keluar dari rumah sakit dalam 2 hari, tanpa kejelasan dan foto
apakah dia terluka atau tidak.
3. Pisau tidak jelas berasal darimana, dan ditemukan tanpa gagang.
4. Pihak universitas menutup-nutupi kejadian ini.

Spekulasi dan kemungkinan-kemungkinan:

Apakah benar David menyerang profesor saat dia sedang membungkuk menghadap ke
layar komputer? Jika itu benar, maka tidak mungkin saat ini profesor tersebut
telah pulang ke rumahnya dalam 2 hari sejak kejadian.

Apakah sang profesor tersebut yang justru menyerang David?
Tidak tahu, namun jika ya, apa motifnya?

Saat ini santer beredar di Singapura kabar bahwa sang Profesor ingin merebut
FYP milik David. Hal ini didukung oleh kesaksian teman David yang mengatakan FYP
David hampir selesai. Apakah mungkin seorang dosen dan Profesor dari universitas
terkemuka di negara maju mau merebut FYP milik mahasiswanya sendiri? Apakah ini
motif sesungguhnya? Kita tidak tahu!

Apakah ada orang ketiga dalam kasus ini?
Kita tidak juga tahu.

Ming, saat ini lo udah gak ada, gak ada lagi yang bisa kita lakukan buat lo,
selain pulihin nama baik lo, dan menyatakan kebenaran, lo istirahat yang tenang
aja disana.

RIP, ming.

Kabarkan ini ke teman-teman, saudara, dan copylah tulisan saya ini di
blog/forum/facebook/friendster anda.

Salam.
Klemens A.

Older Posts »

Categories