Saat ini, begitu banyak pengembang mengembangkan turunan dari mikrokontroler yang ada, untuk tujuan kemudahan dalam penggunaan. Pola yang digunakan dalam “menciptakan” mikrokontroler turunan ini umumnya sama, yaitu menanam sebuah firmware khusus sehingga bisa bekerjasama dengan development tool berupa IDE – Integrated Development Environment dan compiler, yang dikembangkan bersamaan agar saling mendukung. Jadi, pengembangannya dilakukan di dua sisi, sisi mikrokontroler dalam bentuk firmware, dan sisi komputer berupa IDE dan compiler untuk pemrogramannya.
Kelemahan umum dari mikrokontroler turunan ini adalah, tidak bisa keluar dari pakem atau aturan yang telah ditentukan sejak semula oleh
pengembangnya. Misalnya, bila mikrokontroler turunan tersebut fokus pada pemrograman dengan Bahasa BASIC, maka dia tidak bisa diprogram dengan cara lain. Pemrogramannya pun harus menggunakan resources yang disediakan oleh pengembang.
Dari statistik, turunan dari mikrokontroler PIC dari Microchip adalah yang paling banyak. Sebagai contoh adalah BASIC Stamp dan PICAXE.
Keduanya menggunakan Bahasa BASIC sebagai rujukan. Dari satu sisi, keduanya menawarkan kemudahan, dan memang kenyataannya cukup mudah dan nyaman untuk pengguna pemula. Namun di sisi lain, saat kita memikirkan cara yang berbeda untuk memprogramnya, itu tidak bisa dilakukan. Firmware yang ada di dalamnya sudah dikunci, dan hanya mengerti token yang dikirimkan oleh IDE terkait.
Pada BASIC Stamp, “compiler” di sisi komputer meng-kompilasi source code ke dalam bentuk token. Token-token tersebut dikirim ke mikrokontroler BASIC Stamp untuk disimpan dalam EEPROM eksternal, kemudian diterjemahkan dan di-eksekusi saat program dipanggil. Mekanisme yang digunakan masih seperti BASIC pada awalnya, yakni interpreter.
PICAXE sudah menggunakan konsep compiler. Yang dikirim ke dalam chip sudah berbentuk machine code yang siap di-eksekusi. PICAXE hanya berupa single chip – berbeda dengan BASIC Stamp dan OOPIC yang berupa rangkaian – yang di dalamnya sudah ditanam sebuah firmware, namun masih menyisakan sejumlah ruang untuk program yang kita kembangkan.
Contoh lain dari turunan mikrokontroler PIC adalah OOPIC. Mikrokontroler ini menerapkan konsep OOP – Object Oriented Programming berbasis Bahasa BASIC di sisi pemrogramannya. Dengan demikian, mereka yang terbiasa dengan Visual Basic, diharapkan, bisa lebih cepat menguasainya. Skema / rangkaiannya mirip dengan BASIC Stamp. Ada EEPROM eksternal untuk menyimpan object code hasil kompilasi yang dikirim dari komputer, dan dalam flash internal-nya sudah ditanam firmware yang sesuai dengan tujuan pengembangnya. Sama seperti BASIC Stamp dan PICAXE, OOPIC tidak bisa diprogram dengan cara lain, selain yang didukungnya. Saat ini OOPIC mendukung Bahasa BASIC, Java dan C.
IDE yang disediakan vendor-vendor di atas umumnya free, namun tanpa menggunakan perangkat yang mendukungnya, software tersebut tidak berguna.
Untuk mikrokontroler AVR, saya hanya mencatat satu turunan yang cukup populer, namun masih kalah populer dibanding turunan PIC; yang mengusung isu open source, yakni Arduino. Pemrogramannya menggunakan Bahasa C yang sedikit di-modifikasi untuk mencapai target kemudahan, serta menggunakan C compiler GCC yang juga open source, yang bisa run di Windows maupun Linux. Arduino menggunakan konsep yang berbeda dibanding turunan PIC di atas. Di dalam flash-nya tidak ditanam firmware yang spesifik. Jadi, program yang kita buat bisa disimpan dalam flash internal. Yang ditanam di dalamnya hanyalah sebuah boot loader, yang berisi sejumlah inisialisasi. Selebihnya tidak ada yang istimewa. Versi terakhir Arduino menggunakan ATmega168.
Dari contoh-contoh di atas, kita bisa melihat, bahwa banyak pengembangan dilakukan untuk “memanjakan” pengguna, sehingga bisa lebih produktif. Untuk aplikasi yang memerlukan waktu penyelesaian yang singkat, menggunakan mikrokontroler turunan jelas merupakan pilihan yang disarankan. Memang ada extra cost yang harus dibayarkan, namun itu sebanding atau bahkan lebih rendah dibanding time saving yang kita dapatkan.
Namun, untuk sebuah fleksibilitas, mikrokontroler “original” tetap merupakan pilihan, karena tidak tergantung pada vendor tertentu, kecuali
produsennya.
Sumber : christiantotjahyadi.wordpress.com

Arduino sekarang sudah cukup populer karena Arduino bersifat open source, tidak seperti turunan PIC yang setahu saya komersial semua. Arduino menggabungkan mikrokontroler, programmer dan port komunikasi sekaligus, sehingga sangat mudah menanam program atau mendebug tanpa tambahan rangkaian atau software lain. Disamping itu kemampuan Arduino bisa maksimal karena memiliki library AVR dan sanggup melakukan low level programming — karena Arduino pake bahasa C tentunya.
By: Tius on February 23, 2009
at 10:20 am
Terima Kasih atas komentarnya
By: samuel4121994 on February 28, 2009
at 11:21 pm
Beberapa waktu lalu saya cukup repot membuat program untuk grafik LCD karena tidak ada datasheet yang lengkap. Setelah mencari, akhirnya dapat sample code menggunakan AVR GCC. Saya copy ke Arduino dan ternyata code itu berjalan dengan mulus.
By: Tius Piepin on March 1, 2009
at 10:56 am
Dimana cari arduino di indonesia / jakarta. Saya cuman dapat satu penjual http://indorobotika.wordpress.com/
By: andre on July 10, 2009
at 11:10 pm
arduino indonesia memang satu2nya distributor yang ditunjuk diindonesia.
sekarang arduino membuka peluang untuk para agen yang ingin menjualkan prodak arduino..
lansung aja lihat dan bisa tanya atau call aja
http://indorobotika.wordpress.com/ aja
By: indoarduino on July 27, 2009
at 8:01 am
Beli Arduino di Indonesia kok mahal ya. Padahal kalo beli online dari distro di Hongkong bisa di bawah 300rebu (sudah include shipping) dan cuma 6-9 hari sudah sampe.
By: Tius on July 31, 2009
at 1:21 am
setau saya sama aja nanti kena beacukai lagi di hitung per unitnya. ga jauh beda lah sama beli diindonesia…harga sudah patokan segitu tidak bisa dimahalin. mahal karena ongkos masuknya yang mahal.
aku sih udah beli seri duemilanove dan hasilnya bagus kok. seris terbatas…
By: gusti on August 15, 2009
at 7:40 am
Saya udah sering beli dan sampai saat ini nggak pernah kena bea cukai
By: Tius on August 24, 2009
at 12:40 am
kalau mau beli online, website (URL) nya dimana yah ?
ada yg pernah pakai arduino ethernet shield ?
pls info. thanks.
By: roy on October 6, 2009
at 8:02 am