Posted by: samuel4121994 | March 21, 2009

Pemilu 2009 : Menuju Pemilu Sukses

Mengawali perjalanan awal tahun 2009, nampaknya wacana dan perbincangan seputar Pemilu 2009 cukup mendapat perhatian luas dari publik. Beragam prediksi dan proyeksi tentang Pemilu mengemuka dari para pengamat. Tulisan Kiki Syahnakri di sebuah surat kabar nasional (06/01/2009) nampaknya cukup menarik untuk dieksplorasi lebih mendalam.

Paling tidak ada dua point penting dalam uraian pandangan Kiki Syahnakri, pertama kemungkinan munculnya potensi konflik yang dipicu karena beragam persoalan seputar pemilu kedua, ini yang penting, mengingatkan kembali semua elemen masyarakat-terutama aparat Polri-agar tetap waspada dan melakukan konsolidasi dalam pengamanan Pemilu 2009 nanti.

Dalam menghadapi dan mempersiapkan Pemilu 2009 nanti, ada baiknya jika sejenak kita menoleh ke belakang, melihat pengalaman Pemilu 2004 lalu. Secara de facto, Pemilu 2004 dalam konteks keamanan terbilang pemilu paling sukses, aman dan lancar. Pandangan ini nampaknya di-amini juga oleh banyak kalangan bahkan presiden dan presiden terpilih saat itu.

Padahal, menjelang pemilu 2004, publik diramaikan dengan opini bahwa pemilu akan berlangsung rusuh dan berdarah-darah. Tentu saja keberhasilan Pemilu 2004 adalah keberhasilan semua elemen bangsa; panitia penyelenggara pemilu (KPU), panwas, ornop pengawas pemilu dan aparat Polri/TNI. Dalam kaitannya dengan aspek keamanan dan pengamanan Pemilu, keberhasilan pemilu 2004 tentu saja tidak lepas dari peran dan kinerja Polri.

Menurut hasil evaluasi yang dilakukan oleh lembaga Kemitraan (Partnership) tahun 2004 terhadap peran Polri dalam pemilu 2004, dikatakan bahwa faktor pendukung keberhasilan Polri dalam mengamankan pemilu 2004 diantaranya; persiapan matang yang dilakukan Polri, kepercayaan diri Polri dan upaya Polri menjaga netralitasnya. Untuk soal netralitas, nampaknya sejalan dengan pandangan Kiki Syahnakri. Pun demikian, keberhasilan Polri tahun pemilu 2004 lalu nampaknya akan diuji kembali dalam pemilu 2009 nanti ?

Selain potensi konflik yang ditimbulkan dari lemahnya kultur dan etika demokrasi dan banyaknya kontestan pemilu 2009, beragam persoalan sosial-kemasyarakatan yang saat ini terjadi pun dinilai akan turut mempengaruhi tensi konflik yang terjadi. Dalam aspek Politik misalnya, carut marut persiapan pemilu oleh KPU yang dinilai masih lamban dan miskin sosialisasi, serta konflik internal partai nampaknya boleh jadi akan memicu konflik dan apatisme publik. Sedangkan dalam aspek ekonomi, dampak gejolak ekonomi global masih menjadi ancaman besar terutama dalam menekan daya beli dan menurunnya sisi permintaan/konsumsi. Belum lagi jumlah pengangguran yang diprediksi oleh para pengamat kian bertambah akan menjadi persoalan sosial akan mempengaruhi jalannya pemilu 2009.

Sederhananya, di tengah situasi politik, sosial dan ekonomi yang terjadi, mewujudkan pemilu 2009 yang damai dan aman menjadi tantangan tersendiri baik bagi pemerintah, aparat Polri/TNI, KPU dan Panwas dan tentu masyarakat sendiri. Inilah saatnya semua elemen bangsa diuji kembali kematangan dan kedewasaannya dalam berbangsa dan bernegara. Sekaligus pemilu 2009 juga menjadi indikator, apakah perjalanan reformasi-sebagai tonggak demokratisasi-selama 10 tahun ini hanya menghadapkan bangsa ini pada aspek prosedural demokrasi an-sich minus kultur dan etika demokrasi? Bahkan minus substansi demokrasi itu sendiri yaitu terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran Rakyat?

Terlepas dari proyeksi dan analisa kondisi pemilu 2009 yang masih dinilai “rawan” dan berpotensi munculnya konflik, namun pelaksanaan pemilu 2009 secara pasti akan berjalan dalam hitungan hari ke depan. Inilah saatnya bagi semua elemen dan stakeholders bangsa ini untuk merajut dan meneguhkan kembali komitmen dalam menciptakan pemilu 2009 yang damai, aman dan lancar.

Mengingat keberhasilan pemilu 2009 nanti sangat tergantung pada semua elemen bangsa, maka sejatinya semua elemen bangsa pun turut serta dalam pengamanan pemilu 2009. Aparat Keamanan dari Polri/TNI tentu saja hendaknya melakukan persiapan matang pemilu 2009 termasuk di dalamnya upaya memetakan, memprediksi dan mengantisipasi berbagai gangguan, hambatan dan ancaman bagi terwujudnya pemilu 2009 yang damai.

Bagi panitia penyelenggara, KPU sejatinya speed dan ritme kinerja menjadi prioritas dengan tetap berjalan dalam koridor peraturan yang telah ditetapkan. Dan bagi masyarakat, selain turut larut dalam pesta demokrasi tahun ini, partisipasi dalam menciptakan situasi yang kondusif sangat penting. Tanpa peran serta masyarakat dalam pengamanan pemilu, mustahil terwujud pemilu 2009 yang damai dan aman.

Akhirnya semua terpulang kepada kita semua. Apakah pemilu 2009 akan berlangsung damai? Atau sebaliknya?. Sebagai penutup, penulis masih optimis bahwa pemilu 2009 akan berlangsung damai dan aman. Optimisme itu selain merupakan ekspresi dari sikap positif penulis juga mengingat proses pembelajaran demokrasi yang telah dilewati oleh masyarakat dalam kurun 4 tahun terakhir ini nampaknya memberikan pengalaman berharga bagi masyarakat dalam berdemokrasi. Tuhan Memberkati.


Leave a response

Your response:

Categories